Menurutnya, masih banyak UMKM potensial yang memiliki produk bagus dan pasar menjanjikan, tetapi tertahan karena belum memenuhi persyaratan perizinan, termasuk izin edar, BPOM, maupun sertifikasi halal.
“Biasanya yang pertama kami lakukan adalah perizinan. Ketika produk sudah layak dijual, harus dipastikan semua persyaratannya terpenuhi,” ujarnya.
BI tidak bekerja sendiri dalam proses tersebut. Untuk mempercepat pemenuhan persyaratan, BI berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk BPOM dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Yono menyebut persoalan tersebut lebih banyak disebabkan keterbatasan pemahaman pelaku UMKM mengenai prosedur dan tahapan perizinan.
“Bukan karena prosesnya. Biasanya lebih kepada tingkat pemahaman. Mereka bingung harus mulai dari mana,” katanya.
Karena itu, materi mengenai perizinan seperti PIRT, BPOM, sertifikasi halal, hingga aspek teknis seperti kemasan turut dimasukkan dalam program bootcamp dan pendampingan UMKM.
Pendampingan Tidak Sekadar Program Sesaat
Yono menegaskan, program pengembangan UMKM BI tidak dirancang sebagai kegiatan satu kali. UMKM yang telah lolos kurasi sebagai mitra akan mendapatkan pendampingan dengan target dan periode tertentu.
“Kami tidak pernah membuat program yang sifatnya one shot. Kami punya anggaran tahun ini, lalu selesai. Tetapi kami memastikan ada continuity-nya,” tegasnya.
BI juga menerapkan periode pendampingan atau passing out. Setelah melewati periode tertentu, UMKM diharapkan telah memiliki pengetahuan, jaringan, dan kemampuan yang cukup untuk berkembang secara mandiri.
Dengan pola tersebut, BI kemudian dapat mengalihkan fokus pendampingan kepada UMKM lain yang membutuhkan.
“Mayoritas yang kami dampingi itu berhasil. Kecuali dari mitranya sendiri yang memang tidak cukup semangat. Itu ada, tetapi tidak begitu banyak,” ungkap Yono.
Saat ini, kata dia, terdapat sekitar 200 UMKM yang menjadi binaan BI Jawa Timur, meski angka tersebut masih akan dikonfirmasi berdasarkan sistem informasi BI.
Mayoritas bergerak di sektor pangan, pertanian, dan sektor yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Fokus tersebut sejalan dengan perhatian BI dalam beberapa tahun terakhir terhadap penguatan ketahanan pangan.
Teh Gambyong: Omzet Melonjak Tiga Kali Lipat
Pendekatan tersebut terlihat dari perkembangan UMKM Teh Gambyong di Desa Kemuning, Karanganyar. Setelah memperoleh pendampingan dan akses pasar, usaha yang dikelola Eko Wuryanto itu mengalami peningkatan kinerja bisnis.
Omzet yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp85 juta per bulan pada 2023, kini meningkat menjadi sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan pada 2026.