ekonomi

Tiga Pilar BI Dorong UMKM Naik Kelas, Teh Gambyong Bukukan Omzet hingga Rp300 Juta per Bulan

Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:40 WIB
Salah satu pemetik Teh UMKM Teh Gambyong di Desa Kemuning, Karanganyar yang dikelola Eko Wuryanto.

SOLO, NAWACITAPOST.COM — Bank Indonesia (BI) Jawa Timur terus memperkuat strategi pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui tiga pilar utama, yakni penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, dan perluasan pasar.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, Yono Haryono, mengatakan ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari kerangka kerja BI untuk mendorong UMKM tidak sekadar bertahan, tetapi mampu naik kelas dan memperluas skala usahanya.

Hal itu disampaikan Yono usai mengunjungi UMKM Teh Gambyong di Desa Kemuning, Karanganyar, dalam rangkaian Capacity Building Media Gathering di Solo, Selasa (6/10/2026).

“BI punya framework dalam pengembangan UMKM. Visi yang ingin kita dorong ketika memfasilitasi UMKM adalah bagaimana UMKM itu bisa naik kelas,” ujar Yono.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, Yono Haryono

Menurutnya, pilar pertama adalah korporatisasi atau penguatan kelembagaan. BI mendorong pelaku usaha, termasuk petani, untuk membangun kekuatan secara berkelompok sehingga memiliki posisi tawar dan kapasitas usaha yang lebih kuat.

“Kalau misalkan kita ke petani yang tadinya individual, kita dorong menjadi kelompok tani. Dari kelompok tani kita dorong menjadi gapoktan, bahkan bisa menjadi koperasi,” jelasnya.

Setelah kelembagaan diperkuat, pilar kedua adalah akses pembiayaan. Yono menyebut pembiayaan menjadi kebutuhan penting ketika UMKM mulai melakukan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi.

“Ketika mereka sudah berkelompok dan ingin mengekskalasi usahanya, misalnya punya lahan dan ingin meningkatkan produktivitas, tetapi tidak punya modal sendiri, maka akses pembiayaan menjadi penting,” katanya.

Karena itu, BI juga memfasilitasi business matching antara UMKM dengan lembaga pembiayaan. Skema tersebut antara lain dilakukan dalam berbagai kegiatan pengembangan UMKM seperti Java Coffee & Flavour Fest (JCFF) maupun kegiatan ekonomi dan keuangan syariah.

Pilar ketiga adalah perluasan akses pasar. Menurut Yono, UMKM yang telah memiliki kelembagaan dan dukungan pembiayaan tetap membutuhkan pasar agar pertumbuhan bisnisnya berkelanjutan.

“Pasarnya juga harus difasilitasi. Kami memfasilitasi akses pasar, bukan hanya domestik. UMKM yang punya kapasitas untuk ekspor juga kami fasilitasi,” tuturnya.

BI, lanjut Yono, juga membuka peluang bagi UMKM potensial untuk mengikuti berbagai pameran berskala nasional maupun internasional. Bahkan, pada Trade Expo Indonesia, dua UMKM binaan mitra BI Jawa Timur akan difasilitasi untuk memperluas akses ke calon pembeli dari berbagai negara.

Perizinan Jadi Pintu Masuk UMKM Naik Kelas

Selain tiga pilar tersebut, Yono menegaskan aspek legalitas dan sertifikasi menjadi salah satu perhatian awal dalam pendampingan UMKM.

Halaman:

Tags

Terkini