Penulis oleh dosen dan mahasiswa:
dr. Prita Aulia Nastaghfiruka, Sp.N, dr. Aninda Tanggono, Sp.An, dr. Shinta Karina Yuniati, Sp.P, dr. Hadi Susanto, Sp. OG, dr. Amik Yulianti, Sp. OG, dr. Endang Susanti Wirasanti, Sp. THT-BKL, dr. Fitria Kusuma Wardhani, Sp. KFR, M.ked.klin, AIFO-K, dr. Kun Avriady Handoko, dr. Meiyin Ayulanda, M. Biomed, mauza faradilla asmoro, syah ariq zaidaan najich, m. syahroni, arif zanjabil haq, m.ismail nugroho, mir atudz dzikro, kadek ardhyani widya ningrum, bisarda kanira permata putri winangest, jocelin elfreda faras, auberta salsabila ardi wibowo.
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
Indonesia merupakan salah satu negara maritim dengan keberanekaragaman flora fauna di perairan dan perindustrian-nya. Seiring berkembangnya zaman, perindustrian semakin gencar dan begitu pula dengan zat sisa buangnya. Banyaknya industri yang ada, jumlah limbah yang dibuang ke laut terus meningkat dalam kadar yang tinggi, menyebabkan pencemaran lingkungan pada tingkat lokal hingga dapat menyebar ke tingkat global.
Pencemaran laut dapat terjadi akibat pembuangan limbah kimia dari pabrik yang diteruskan ke sungai dan akhirnya mengalir ke lautan. Penyebab lainnya adalah pembuangan tailing atau sisa hasil penambangan ke dalam laut yang seharusnya menetap di dasar terangkat ke permukaan oleh arus balik laut. Tailing mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri dan sulfur, sehingga berpotensi menyebabkan kerugian lingkungan yang menumpuk sepanjang rantai makanan di ekosistem laut.
Baca Juga: 'UPN Mengabdi', Pengmas Dosen FK UPN Veteran Jatim Fokus Deteksi Dini Anemia
Dugaan kasus pembuangan tailing ditemukan di daerah pantai Gunungkidul pada hari Sabtu (7/10/2023). Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mendapatkan laporan adanya gumpalan hitam di Pantai Krakal dan Pantai Slili Gunungkidul. Ditemukannya cairan hitam yang menyerupai aspal dan lengket dengan bau seperti solar, menyebabkan beberapa biota laut seperti rumput laut, kepiting dan siput mati di Pantai Krakal.
Penelusuran berlanjut dengan mengambil sampel gumpalan hitam dan air yang terkontaminasi untuk dilakukan uji laboratorium.
Setelah lebih dari dua pekan, hasil laboratorium telah keluar dengan dua parameter yang melebihi baku mutu, yaitu Biological Oxygen Demand (BOD) dan unsur fenol. Kepala DLH Gunungkidul Hary Sukmono menyebutkan bahwa kandungan BOD dan fenol tidak berbahaya bagi ekosistem laut, yang dimana BOD sendiri merupakan unsur oksigen yang dimiliki air.
Menurut penelitian dari mahasiswa kesehatan lingkungan UNDIP, BOD menunjukkan adanya oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai bahan organik dalam kondisi aerobik. Kadar BOD yang tinggi ditandai dengan banyaknya mikroorganisme, seperti Escherichia coli dan Streptococcus faecalis. Kandungan BOD dalam yang air semakin meningkat akan menyebabkan rendahnya kadar oksigen dan bakteri dapat hidup di tubuh biota laut, seperti ikan, kepiting, dan siput.
Baca Juga: UPN Mengabdi: Dosen dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Jatim Gencarkan Edukasi Hidup Sehat
Apabila biota laut yang terinfeksi bakteri dikonsumsi oleh manusia dapat berdampak bagi kesehatan, seperti infeksi saluran pencernaan, diare, dan iritasi kulit. Sedangkan konsumsi dari biota laut yang terkontaminasi kandungan fenol dapat menyebabkan gangguan pernafasan, kelemahan otot, tremor, iritasi kulit dan bahkan penurunan berat janin hingga kematian.
Agar tidak timbul kejadian yang tidak diinginkan, pihak DLH Gunungkidul beserta pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) perlu melakukan penelusuran lebih lanjut dan penindakan terkait pihak yang membuang limbah industri di daerah sekitar pantai Gunungkidul. Apabila dibiarkan begitu saja, nelayan dan masyarakat yang tidak mengetahui adanya kandungan berbahaya di dalam makanan laut dapat mengalami masalah kesehatan.
Dari kasus di atas kita bisa melihat bahwa penelitian tentang BOD dan fenol tidak bisa hanya dilakukan satu kali saja, tetapi bisa dilakukan pengujian berulang-ulang sampai diperoleh hasil yang akurat, dan sebelum penelitian belum akurat,hasil tidak diperbolehkan untuk di publikasi karena warga sekitar tidak waspada atas BOD yang tercemar.