berita-peristiwa

Sesak Berbulan-bulan, Warga Palembang Soroti Penanganan Kabut Asap Karhutla oleh Pemerintah

Senin, 5 Oktober 2026 | 17:02 WIB
Kondisi Palembang, Sumatera Selatan yang masih diselimuti kabut asap imbas karhutla. (Threads/khanzachoi_)

NAWACITAPOST.COM — Gelombang kritik tajam menerjang pemerintah daerah setelah kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengepung Kota Palembang, Sumatera Selatan, selama hampir tiga bulan terakhir.
 
Di tengah paparan polusi yang tak kunjung mereda, masyarakat mulai menyuarakan kekecewaan mendalam atas respons pemerintah yang dinilai lambat dan belum membuahkan hasil nyata di lapangan.

Kepanikan dan amarah warga membuncah di berbagai platform media sosial. Selain mengeluhkan kualitas udara yang kian memburuk, warga secara terbuka memprotes langkah mitigasi penanganan bencana asap yang dianggap belum dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas.
 
Baca Juga: Gempur Penyelundupan Lintas Batas, Bea Cukai Gagalkan Potensi Kerugian Negara Rp38 Triliun

Dampak paparan asap saban hari ini tidak lagi sebatas mengganggu jarak pandang kendaraan yang terpaksa harus menyalakan lampu pada pagi hari, tetapi sudah meluas menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwa dan kesehatan publik.

“Palembang darurat asap, tidak ada lagi udara segar yang bisa dihirup, anak-anak sudah mulai sakit. Kondisi Palembang pagi ini, Senin, 5 Oktober 2026,” tulis akun Threads @hsbllhfrmnsyh pada Senin, 5 Oktober 2026.

Keluhan senada yang menyoroti lambannya penanggulangan dampak bencana ini disuarakan oleh warga lainnya.
 
Mereka menilai pengobatan medis yang dijalani menjadi sia-sia selama sumber polusi udara dari kebakaran lahan belum berhasil dipadamkan secara total oleh pihak berwenang.

“Belum pernah bersuara di Threads, tapi ini sudah keterlaluan sih. Hampir 3 bulan kami di kota ini hirup asap, bukan membaik tapi makin parah, gimana kabar paru-paru? Udah ke dokter, makan obat pun udah, muak banget. Masih batuk, napa sesak, kepala sakit, kalau kualitas udara masih seperti ini,” ungkap akun @cin********a pada Senin, 5 Oktober 2026.
 
Baca Juga: DPRD Batam Memanas, Warga Teluk Bakau: Investasi Jangan Dibangun di Atas Air Mata Rakyat

“Puluhan tahun tinggal di sini, tahun ini the best worst ever. Ini bukan Genting, ini Palembang. Bukan dingin tapi panas, tolong bapak-bapak yang terhormat, cepat atasi kabut asap ini,” sambungnya.

Desakan agar pemerintah segera mengambil tindakan konkrit dan agresif guna menuntaskan krisis ekologi ini juga dialamatkan langsung kepada pejabat daerah. Warga mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan berisiko mengorbankan organ vital jutaan penduduk.

“Pak Herman Deru, ini asap lho pak. Tebal pak, bayangkan kalau masyarakat setiap hari menghirup asap ini tapi sampai sekarang belum ada penanganan dan upaya nyata untuk menghilangkan asap ini. Ayo disegerakan, jangan sampai paru-paru jadi taruhan,” tulis @rez*******a dalam unggahannya pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Kekhawatiran publik tersebut sejalan dengan lonjakan drastis data medis di fasilitas kesehatan setempat.
 
Dinas terkait mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Bumi Sriwijaya melonjak tajam menyentuh angka 17.434 kasus sepanjang September 2026.
 
Baca Juga: Punya Transmisi Otomatis, Suzuki Jimny Heritage Terbatas 300 Unit Saja Kembali Mengguncang
 
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 16,07 persen atau bertambah 2.414 kasus dibandingkan Agustus 2026 yang mencatatkan 15.020 kasus.

“September ini kasus ISPA 17.434 kasus, ini menjadi yang terparah dibandingkan bulan Agustus lalu,” ujar Wali Kota Palembang, Ratu Dewa kepada wartawan pada Sabtu, 3 Oktober 2026 lalu.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Palembang masih menantikan langkah taktis, terukur, dan darurat dari pemerintah guna memadamkan titik api serta mengembalikan udara bersih yang menjadi hak dasar warga.

Tags

Terkini