Bagi Djoko, kepedulian warga terhadap fasilitas olahraga menunjukkan adanya rasa memiliki. Fasilitas pemerintah, menurutnya, akan lebih bermanfaat ketika masyarakat ikut menjaga sekaligus menghidupkannya dengan berbagai kegiatan positif.
Ia pun berharap aktivitas olahraga di Karah tidak berhenti setelah rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan selesai.
“Harapannya ini event tetap terjaga di kemudian hari. Karena dengan adanya kompetisi ini maka orang ini ngumpul, barang, guyub rukun,” pungkasnya.
Dengan demikian, Piala Lurah Karah bukan sekadar tentang siapa yang mengangkat trofi pada pertandingan final. Di balik persaingan 12 tim di lapangan, terselip tujuan yang lebih besar: menghidupkan kembali ruang pertemuan warga, menjaga fasilitas bersama, dan merawat semangat gotong royong di tengah kehidupan perkotaan. ***