olahraga

Suporter Unjukrasa Tuntut Perubahan Sistim PSSI

Senin, 21 Januari 2019 | 12:53 WIB
Bali NAWACITA - Kongres Tahunan PSSI yang digelar di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (20/1) kemarin, diwarnai aksi unjuk rasa oleh gabungan kelompok suporter.

Puluhan suporter yang merupakan gabungan dari beberapa komunitas melakukan unjuk rasa di sekitar lokasi Kongres Tahunan PSSI mulai sekitar pukul 10.30 WITA. Mereka sempat berniat masuk ke dalam lokasi kongres. Namun, usaha tersebut dihentikan pihak kepolisian yang berjaga di lokasi. Unjuk rasa yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam itu berakhir setelah berdiskusi dengan aparat.

Suporter menginginkan adanya perombakan pengurus setelah terungkapnya pengaturan skor yang melibatkan beberapa pejabat PSSI. Saat ini, Satgas Anfimafia Bola terus bekerja melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait skandal curang kompetisi nasional.
Koordinator suporter Andy Kristiantono mengungkapkan, meskipun orang baru tidak menjamin mebawa perubahan lebih baik, namun orang lama sudah terbukti tidak menghasilkan perubahan untuk kemajuan sepakbola nasional.

"Kami memang tidak bisa menjamin orang-orang baru dapat membawa perubahan. Namun, orang-orang lama yang sudah bertahun-tahun berada di dalam, jelas tidak menghasilkan sesuatu untuk perubahan sepak bola nasional," ungkap Andy.

Ia pun menyinggung kasus pengaturan skor yang kini ditangani polisi. Tidak adanya perubahan di dalam PSSI, menurut Andy, terlihat dari berulangnya kasus pengaturan skor.

"Permasalahan sepak bola Indonesia sudah akut dan sistemik. Kami berharap para pemilik suara atau voters PSSI melihat persoalan ini secara objektif," kata Andi.

Karena dinilai sudah sistemik, suporter pun mengharapkan adanya perubahan sistem di PSSI. PSSI diminta lebih efektif dalam bekerja dan transparan dalam berbagai keputusan yang diambilnya, termasuk soal sanksi-sanksi kepada klub.

Seluruh elemen PSSI, ujar dia, mesti bertugas maksimal. Sanksi yang diberikan kepada sebuah klub juga harus jelas.

"PSSI selama ini, ketika menjatuhkan hukuman kepada klub, tidak diterangkan melanggar pasal apa. Selain itu, idealnya suporter juga dilibatkan dalam kongres, mungkin menjadi peninjau atau observer," katanya.

Sekedar diketahui, Satgas Antimafia Bola, yakni satuan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dibentuk pada Desember 2018, sudah menetapkan 11 tersangka terkait kasus pengaturan skore di tubuh PSSI. Enam di antaranya telah ditahan, termasuk para pengurus PSSI dan wasit.

Sedangkan pengurus PSSI yang dijadikan tersangka adalah anggota Komite Eksekutif PSSI Johar Lin Eng dan anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih. Tersangka lainnya berasal dari unsur klub dan wasit.

Para tersangka tersebut terlibat dalam pengaturan skor dan manipulasi pertandingan di kompetisi resmi Liga 2 dan Liga 3. Namun, satgas menyasar para pelaku kecurangan dengan delik pidana penipuan dan penggelapan, serta pencucian uang dan penyuapan.

Pekan lalu, sejumlah pengurus PSSI juga telah diperiksa sebagai saksi. Pada Rabu (16/1), Satgas Antimafia Bola memeriksa Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha. Tisha menjalani pemeriksaan lebih dari 13 jam. Tisha mengaku ditanya perihal pencegahan terhadap penyalahgunaan dan pelanggaran di tubuh PSSI.

Karopenmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo sebelumnya mengatakan, Satgas Antimafia Bola akan terus mendalami kasus pengaturan skor dengan memeriksa para petinggi PSSI. Ia menjelaskan, sejumlah keterangan yang hendak digali tim satgas dari para pengurus PSSI antara lain soal regulasi, pengaturan jadwal pertandingan, dan penunjukan wasit.

Tags

Terkini