NAWACITAPOST.COM - Keterlibatan Timnas Israel di Piala Dunia U-20 2023 menimbulkan reaksi penolakan dari berbagai kelompok. Hal tersebut ditanggapi oleh Ketua Umum (Ketum) Pemuda Katolik, Stefanus Gusma.
Menurutnya, masyarakat Indonesia diminta bijak dalam menyikapi polemik keikutsertaan Timnas Israel di Piala Dunia U-20 2023.
Pasalnya, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2019 melalui proses perhitungan oleh FIFA.
”Timnas Israel dan negara-negara lain mengikuti kompetisi sesuai aturan FIFA, sampai akhirnya diputuskan 24 negara lolos dari 6 konfederasi yang ada yaitu AFC, CAF, Concacaf, Conmebol, UEFA, dan OFC,” kata Stefanus Gusma dalam keterangannya persnya.
Pria yang disapa Gusma ini mengatakan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 menjadi pertaruhan nama baik bangsa di kancah sepakbola internasional.
Jika, Piala Dunia U-20 2003 berlangsung lancar sesuai rencana. Maka, nama baik Indonesia akan mendapat respon positif di mata dunia.
Terlebih, ajang Piala Dunia U-20 2023 ini akan mempromosikan ekonomi dalam negeri seperti UMKM dan sektor lainnya.
Gusma menambahkan bahwa negara Israel juga pernah ikut ajang bertaraf internasional yang digelar di Indonesia.
"Misalnya, delegasi Parlemen Israel pernah datang ke Sidang Majelis ke-144 Inter-Parliamentary Union (IPU) di BICC, Nusa Dua, Bali padaa 2022,” katanya.
-
Tak hanya itu, tahun 2015 pemain bulu tangkis Israel, Misha Zilberman juga pernah tampil di kejuaraan dunia BWF yang digelar di Istora Senayan, selanjutnya pada 24-26 September 2022, atlet panjat tebing Israel Yuval Shemla juga pernah berlaga di Piala Dunia panjat tebing yang digelar di Jakarta.
Bahkan pada Februari lalu, pembalap sepeda Mikhail Yakovlev juga pernah berlaga di kejuaraan dunia UCI Track Nations Cup 2023 yang digelar di Velodrome Jakarta.
Perwakilan Israel juga pernah berlaga di Kejuaraan Dunia Esport IESF ke-14 yang juga digelar di Indonesia.
"Artinya konteks Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan event internasional, selama ini tetap tidak mengubah sikap kita terkait praktik imperialisme dan dukungan moril kita Palestina," paparnya.
"Justru dengan keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah nantinya semakin memperkuat pengaruh Indonesia untuk mengkampanyekan perdamaian dunia," tegasnya.
Mencermati dinamika di dalam negeri, sebagai langkah diplomasi, Pemuda Katolik berharap pemerintah dan PSSI bisa berkomunikasi kepada FIFA untuk semisal meniru langkah IOC dalam Olimpiade Tokyo 2020.
"Pemerintah dan FIFA bisa saja berunding untuk memutuskan Israel hadir atas nama asosiasi dan tidak memutar lagu kebangsaan serta mengibarkan Bendera Israel. Hal ini pernah berlaku pula pada kontingen Rusia dalam olimpiade terakhir. Hal ini bisa dilakukan sebagai jembatan atas ketiadaan relasi bilateral yang dipersoalkan sejumlah kepala daerah dan stakeholders terkait," jelas Gusma.
Gusma mengingatkan seluruh stakeholders persepakbolaan akan esensi sepakbola sebagai pemersatu bangsa.
"Sepak bola adalah bahasa universal bangsa-bangsa yang berbeda baik kultur maupun bahasa," katanya.
"Piala Dunia U-20 yang akan diselenggarakan di Indonesia pada 20 Mei 2023 sampai 11 Juni 2023, harus diletakan dalam prinsip-prinsip baik penyelenggaraan sepak bola sesuai dengan semangat Fair Play FIFA," ucapnya.
Gusma berpandangan Piala Dunia U-20 adalah peristiwa yang mempertemukan tim-tim dari latar belakang kultur, bangsa, dan bahasa yang berbeda.
"Maka dari itu, melalui perbedaan itu kita dapat menjalin persahabatan yang kuat dan mempromosikan solidaritas global," katanya.
Tak lupa, Gusma menyebutkan bahwa sepak bola harus dikembalikan kepada marwahnya.
"Sebagai olahraga yang mempromosikan atmosfer positif dan sportifitas, serta hiburan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan," ungkap Gusma.