SURABAYA, NAWACITAPOST.COM - Berada di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, sebanyak 69 warga binaan mengikuti kegiatan produktif untuk mengasah keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan. Salah satu produk yang rutin dibuat adalah donat, yang menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian.
Kegiatan produksi donat tersebut bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani hukuman. Melalui pembinaan ini, warga binaan mendapat kesempatan mempelajari keterampilan yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, mengatakan berbagai kegiatan produktif di dalam rutan dirancang untuk membekali warga binaan dengan kemampuan yang bisa dikembangkan setelah mereka bebas.
“Dengan adanya pembekalan keterampilan ini, mudah-mudahan setelah keluar dari Rutan Surabaya, mereka bisa mengembangkan kemampuannya untuk berkegiatan di luar,” ujarnya.
Selain donat, warga binaan juga membuat roti abon berdasarkan pesanan. Produk ini harus dibuat sesuai permintaan karena daya tahannya tidak lebih dari satu hari sehingga kesegaran menjadi pertimbangan utama dalam proses produksi.
Hasil produksi bakery dan kuliner dimanfaatkan untuk kebutuhan di dalam rutan. Sementara itu, warga binaan juga mengembangkan produk lain, seperti sabun pembersih perabotan rumah tangga yang dipasarkan ke luar rutan.
Masyarakat yang berminat memesan produk buatan warga binaan dapat menghubungi pengelola melalui WhatsApp maupun media sosial, termasuk TikTok melalui fitur pesan langsung atau direct message (DM).
Menurut Tristiantoro, kegiatan yang memiliki nilai ekonomi juga memberikan manfaat langsung bagi warga binaan. Mereka memperoleh premi atau imbalan dari hasil pekerjaan dan produksi yang dilakukan.
“Untuk kegiatan yang bernilai guna dan memiliki nilai ekonomis, warga binaan juga mendapatkan premi dari hasil produksi. Kalau di luar istilahnya gaji, tetapi di sini kami menyebutnya premi,” jelasnya.
Secara keseluruhan, terdapat 69 warga binaan yang terlibat dalam berbagai bidang pembinaan produktif, termasuk bakery, kuliner, laundry, jasa pangkas rambut, pembuatan sabun, dan pengerjaan produk milik pihak ketiga.
Tristiantoro berharap keterlibatan warga binaan dalam kegiatan tersebut dapat membantu mengubah stigma negatif yang masih melekat pada narapidana. Menurutnya, meskipun sedang menjalani hukuman, mereka tetap mempunyai kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi.
“Walaupun mereka sedang menjalani hukuman, kreativitas maupun keterampilan yang dimiliki tetap bisa kami fasilitasi melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat positif,” tegasnya.
Melalui produksi donat dan berbagai kegiatan lainnya, Rutan Surabaya berharap warga binaan memiliki keterampilan, pengalaman kerja, dan motivasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas. Pembinaan ini sekaligus menjadi upaya membuka kesempatan bagi mereka untuk kembali produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. (ibank)