Kamis, 15 Oktober 2026

Warga Binaan Rutan Surabaya Hasilkan Uang dari Balik Jeruji, Lawan Stigma Negatif Narapidana

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:34 WIB
Bukan Cuma Menjalani Hukuman, Warga Binaan Rutan Surabaya Dibekali Keterampilan untuk Bangkit bermanfaat untuk masyarakat
Bukan Cuma Menjalani Hukuman, Warga Binaan Rutan Surabaya Dibekali Keterampilan untuk Bangkit bermanfaat untuk masyarakat

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM - Menjalani hukuman di balik jeruji bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkarya. Sebanyak 69 warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng terlibat dalam berbagai kegiatan produktif, mulai dari membuat roti dan donat hingga memproduksi sabun pembersih rumah tangga.

Program pembinaan ini menjadi upaya memberikan keterampilan sekaligus membuka kesempatan bagi warga binaan untuk memperoleh penghasilan. Mereka diharapkan memiliki bekal untuk bekerja atau berwirausaha setelah menyelesaikan masa hukuman.

Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, berharap kegiatan tersebut dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap narapidana yang selama ini kerap mendapat stigma negatif.

Menurutnya, warga binaan tetap memiliki potensi untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan meskipun sedang menjalani hukuman. Karena itu, kemampuan mereka perlu difasilitasi melalui kegiatan yang positif dan produktif.

“Harapan kami, kegiatan ini bisa memotivasi warga binaan sekaligus mengubah stigma masyarakat agar tidak selalu memandang mereka secara negatif,” ujar Tristiantoro.

Di dalam rutan, warga binaan mengikuti sejumlah kegiatan, antara lain produksi bakery dan kuliner, pembuatan sabun pembersih rumah tangga, jasa pangkas rambut, laundry, serta pengerjaan barang milik pihak ketiga.

Untuk produk kuliner, donat menjadi salah satu produk yang rutin dibuat. Sementara itu, roti abon diproduksi berdasarkan pesanan karena daya tahannya relatif singkat sehingga perlu dibuat dalam kondisi segar.

Adapun sabun pembersih perabotan rumah tangga dipasarkan ke luar rutan. Masyarakat yang ingin memesan produk tersebut dapat menghubungi pengelola melalui WhatsApp maupun media sosial, termasuk TikTok.

Selain memproduksi barang sendiri, warga binaan juga dilibatkan dalam pekerjaan dari pihak ketiga. Barang yang telah diproduksi pihak ketiga dibawa ke rutan untuk dirapikan atau disempurnakan sebelum dikembalikan kepada pemiliknya.

Dari kegiatan tersebut, warga binaan memperoleh premi atau imbalan atas hasil pekerjaan yang dilakukan. Penghasilan ini menjadi salah satu manfaat ekonomi yang mereka dapatkan selama mengikuti pembinaan kerja.

Tristiantoro berharap keterampilan yang diperoleh selama berada di rutan tidak berhenti ketika masa hukuman berakhir. Kemampuan tersebut diharapkan menjadi modal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Walaupun sedang menjalani hukuman, kreativitas maupun keterampilan yang mereka miliki tetap bisa kami fasilitasi melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat positif,” ujarnya.

Melalui pembinaan tersebut, Rutan Surabaya ingin menunjukkan bahwa status sebagai narapidana tidak serta-merta menghilangkan kesempatan seseorang untuk berkembang. Di balik kesalahan yang pernah dilakukan, warga binaan tetap memiliki peluang untuk memperbaiki diri, membangun keterampilan, dan kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.(ibank)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Elya Yuddy Irawan

Tags

Terkini