ekonomi

Indonesia Mau Jadi Apa di Peta Ekonomi Syariah Dunia? BI Soroti Negara Lain yang Sudah Punya Spesialisasi

Selasa, 6 Oktober 2026 | 07:06 WIB

SOLO, NAWACITAPOST.COM — Negara-negara dunia mulai membangun ceruk masing-masing dalam ekonomi dan keuangan syariah. Ada yang menjadi pusat industri halal, eksportir, destinasi wisata halal hingga pusat keuangan syariah. Lalu, Indonesia mau menjadi apa?

Pertanyaan itu muncul dalam paparan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, Yono Haryono, dalam Capacity Building Media Gathering bertajuk Strategic Visioning: Inisiatif Strategis Kebijakan Eksyar di Solo, Jawa Tengah, Senin (5/10/2026) malam.

Dalam materi BI, posisi Indonesia ditempatkan di antara negara-negara yang telah memiliki kekuatan dan identitas kuat dalam ekosistem ekonomi syariah global. China disebut sebagai eksportir baju muslim tertinggi ke Timur Tengah, Brasil sebagai pemasok terbesar daging unggas halal, sementara Jepang dikenal sebagai simbol integritas halal global.

Thailand bahkan diarahkan menjadi pusat dapur halal dunia. Malaysia membangun posisi sebagai pusat industri halal dan keuangan syariah global. Korea Selatan mengembangkan kosmetik halal sekaligus destinasi utama pariwisata halal.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mendorong Dubai sebagai ibu kota ekonomi syariah dunia. Inggris memiliki London sebagai pusat keuangan syariah di Barat, Australia menjadi pemasok daging sapi halal terbesar ke Timur Tengah, sedangkan Arab Saudi tetap diposisikan sebagai pusat Islam dunia.

Di tengah peta tersebut, materi BI hanya menampilkan satu pertanyaan besar: “INDONESIA?”
Pertanyaan itu menjadi tantangan strategis. Sebab Indonesia memiliki populasi muslim terbesar dan potensi ekonomi syariah yang besar, namun harus menentukan keunggulan yang benar-benar mampu menjadikan Indonesia pemain utama, bukan sekadar pasar.

BI sendiri menempatkan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru global. Konsepnya tidak hanya berbicara soal transaksi keuangan berbasis syariah, tetapi juga nilai rahmatan lil’alamin: kebaikan, keadilan, kesejahteraan dan keharmonisan bagi manusia serta alam.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia punya potensi ekonomi syariah. Tetapi, keunggulan apa yang akan membuat dunia mengenal Indonesia dalam peta ekonomi syariah global? ***

Tags

Terkini