“Kurang lebih dalam jaring aspirasi kali ini saya akan memberikan bantuan sebanyak 200 unit tong komposter yang dibagikan di RW-RW binaan saya di Dapil 5, secara swadaya dari saya pribadi,” tutur dia.
Menurut dia, komposter bukan tujuan akhir dari program tersebut, melainkan sarana awal untuk membangun kegiatan produktif di kampung. Sampah organik yang dikelola dapat diarahkan untuk mendukung tanaman pangan, urban farming, maupun kegiatan lain sesuai potensi lingkungan.
“Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung,” tegas dia.
Dia berharap pengalaman Malaka Jaya dapat menjadi referensi bagi kampung-kampung di Surabaya dalam mengembangkan ketahanan pangan dari skala lingkungan. Program tersebut juga diarahkan agar warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu mengembangkan kegiatan secara mandiri sesuai potensi wilayah.
“Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya. ***