SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Seleksi direksi lima Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Surabaya memasuki fase penting. Anggota Komisi B DPRD Surabaya dari PDI Perjuangan, Baktiono, mengingatkan proses tersebut tidak boleh berubah menjadi ruang bagi kompromi politik.
Menurutnya, jabatan direksi BUMD bukan sekadar posisi struktural, tetapi menyangkut pengelolaan aset dan kepentingan ekonomi masyarakat Kota Surabaya.
Karena itu, Baktiono menegaskan seleksi harus berbasis kompetensi, pengalaman, integritas dan kemampuan mengelola perusahaan. Ia secara khusus meminta agar proses tersebut bersih dari praktik “deal-deal politik”.
“Seorang direktur yang akan memimpin perusahaan daerah harus sesuai dengan kompetensi di bidangnya masing-masing. Jangan sampai karena ada deal-deal atau tekanan politik kemudian memutuskan sesuatu yang tidak berkompetensi,” tegas Baktiono, Senin (28/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan di tengah diperpanjangnya pendaftaran seleksi calon direksi lima BUMD. Pemkot Surabaya membuka 10 posisi direksi, dengan masa pendaftaran diperpanjang mulai 26 September hingga 5 Oktober 2026.
Lima BUMD tersebut yakni Perumda Kebun Binatang Surabaya (KBS), PT Pasar Surya Perseroda, PT Rumah Potong Hewan Surabaya Perseroda, PT YEKAPE Surabaya Perseroda, serta PT BPR Surya Artha Utama Perseroda.
Rinciannya, KBS membuka tiga posisi, yakni Direktur Utama, Direktur Keuangan dan SDM serta Direktur Operasional dan Umum. Pasar Surya membuka Direktur Administrasi Keuangan dan Direktur Pembinaan Pedagang.
Kemudian RPH Surabaya membuka Direktur Utama dan Direktur Administrasi Keuangan, YEKAPE membuka Direktur Operasional, sedangkan BPR Surya Artha Utama membuka Direktur Operasional serta Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko.
KBS Tak Cukup Sekadar Bisa Kelola Bisnis
Baktiono mencontohkan seleksi direksi KBS. Menurutnya, calon yang dipilih harus memahami karakter bisnis sekaligus fungsi konservasi yang melekat pada kebun binatang.
“Kalau KBS, mereka juga harus mengerti flora-fauna, harus paham dan mengerti konservasi alam,” ujarnya.
Menurut Baktiono, konservasi dan kesejahteraan satwa harus menjadi fondasi pengelolaan KBS. Setelah itu, aspek edukasi dan rekreasi masyarakat harus dikembangkan agar KBS memiliki daya tarik yang semakin kuat.
Data Pemkot menunjukkan KBS memang memiliki basis pengunjung yang besar. Pada periode libur Lebaran 2025 saja, hingga H+5 tercatat 72.500 pengunjung. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi KBS sebagai destinasi wisata sekaligus lembaga konservasi.
Namun, potensi tersebut menurut Baktiono harus dikelola oleh orang yang benar-benar memahami bidangnya, bukan sekadar memiliki kedekatan atau dukungan tertentu.
Pasar Surya Jangan Jadi Korban Kompromi
Sorotan Baktiono juga diarahkan kepada PT Pasar Surya Perseroda. Ia mengingatkan pengelolaan pasar membutuhkan pengalaman, inovasi dan pemahaman terhadap karakter pedagang serta perkembangan kawasan perdagangan.