SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Di tengah hingar-bingar modernisasi dan komersialisasi ruang publik, niat tulus menjaga warisan budaya bangsa justru berujung nestapa. Komunitas Kampoeng Dolanan, yang selama satu dekade konsisten menghidupkan dan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak di Car Free Day (CFD) Tunjungan, harus menelan pil pahit.
Melalui unggahan emosional di akun Instagram resminya (@kampoeng_dolanan), mereka menyampaikan rasa kecewa mendalam atas sikap aparat dan kebijakan Pemkot Surabaya.
Perjuangan Mandiri Tanpa Bantuan, Berujung Penolakan
Sejak 2016, Kampoeng Dolanan mengawali langkah bersama berbagai komunitas lain untuk menghidupkan kawasan Tunjungan sebagai ruang edukasi, literasi, dan budaya. Tanpa meminta sepeser pun dana dari APBD Pemkot Surabaya, mereka bergerak secara mandiri.
Segala kebutuhan—mulai dari penyediaan mainan kayu, egrang, hingga koleksi buku bacaan dan boneka tangan—disiapkan dari kantong pribadi. Tak jarang mainan tersebut rusak atau buku terobek saat dimainkan anak-anak, namun mereka tidak pernah meminta ganti rugi. Semua ditanggung sendiri demi satu niat: memberi ruang bahagia dan edukatif bagi anak-anak di ruang publik.
Namun, konsistensi dan niat tulus itu justru disambut pengusiran berulang kali. "Dalam catatan kami, lebih dari 50 kali kami diusir oleh dinas yang bertugas di lapangan," tulis Kampoeng Dolanan dengan nada getir. Kata-kata seperti "Mas, buyar, (aktivitas) ini merusak pemandangan" seolah menjadi santapan biasa yang melukai hati para penggiat budaya ini sejak tahun-tahun awal gerakan mereka.
Ironi di Hari Kebudayaan Nasional
Kekecewaan memuncak pada momentum peringatan Hari Kebudayaan Nasional baru-baru ini. Di hari yang seharusnya menjadi perayaan nilai-nilai luhur dan tradisi, Kampoeng Dolanan kembali diusir dari trotoar area CFD Tunjungan oleh petugas dinas terkait.
Saat dipertanyakan alasan pelarangan kegiatan di trotoar, timbul ironi mendalam. Di titik lain pada lokasi yang sama, kegiatan senam hingga panggung acara yang memakan separuh jalan justru dibiarkan berdiri dan berlangsung riang. Jawaban yang didapat pun terkesan bergeming: "Oh, itu kan hanya panggung kecil," ujar petugas.
Sikap tebang pilih ini menyisakan sindiran menohok dari komunitas. Kawasan Tunjungan yang digadang-gadang sebagai ruang budaya kini menyisakan tanya: kebudayaan seperti apa yang sebenarnya ingin ditonjolkan? Apakah ruang publik Kota Pahlawan hanya ramah bagi panggung komersial dan ajang seremonial, sementara ruang edukasi budaya bagi anak-anak dianggap "merusak pemandangan"?
#terimakasihpemkot: Sindiran Halus nan Menusuk
Satu per satu komunitas lain gugur dan memilih mundur dari gelaran CFD Tunjungan karena tekanan serupa, hingga akhirnya tersisa Kampoeng Dolanan seorang diri yang mencoba bertahan. Kini, melalu tagar satir #terimakasihpemkot, Kampoeng Dolanan memilih untuk menyuarakan keterasingan mereka di tanah kelahiran sendiri.
"Terima kasih Pemkot, karena kebijakanmu membuat kami harus mengakhiri program kami di CFD Tunjungan," tulis mereka menutup pernyataannya.
Sebuah tamparan keras bagi julukan Kota Pahlawan dan kota ramah anak, ketika anak-anaknya sendiri terenggut dari permainan tradisionalnya bukan oleh pengaruh gadget, melainkan oleh kebijakan pemerintahnya sendiri. ***